Cegah Komplikasi Penyakit Psoriasis

Jakarta, Kompas – Penyakit psoriasis menurunkan kualitas hidup, bahkan merusak organ dalam penderita. Untuk mencegah komplikasi penyakit kardiovaskular dan sindrom metabolik, pasien perlu segera mendapat terapi yang tepat.

Psoriasis dialami segala usia, termasuk anak dan remaja, dan berlangsung lama. Mutia Wisnu, karyawati konsultan humas, misalnya, telah menderita psoriasis selama 19 tahun. ”Kalau menderita penyakit infeksi, seperti hepatitis, gejala psoriasis akan makin parah,” tuturnya, saat dihubungi Kamis (30/7) di Jakarta.

”Pengobatan yang tepat bisa mengontrol psoriasis,” kata Prof dr Benny Effendy Wiryadi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jadi penderita akan mengalami gejala yang minimal, bahkan mendapat remisi (tidak kambuh) yang berlangsung lebih lama sehingga kualitas hidup lebih baik. Risiko kena penyakit metabolik, yaitu kardiovaskular dan diabetes, juga berkurang.

Atas dasar itu, masyarakat diimbau segera berobat jika ada gejala psoriasis, antara lain bercak-bercak merah pada kulit, sisik kasar dan tebal, rasa gatal atau nyeri pada kulit, kulit terasa kencang, dan perdarahan pada kulit. ”Pasien yang datang memeriksakan diri biasanya sudah lama menderita psoriasis,” ujarnya.

Trauma, infeksi, stres, gangguan metabolisme, kekurangan kalsium, konsumsi alkohol, dan merokok bisa menjadi pencetus pada mereka yang punya bakat psoriasis. Faktor lain adalah pemakaian obat-obatan tertentu, seperti obat antimalaria dan obat antikejang.

Sering kambuh

Psoriasis merupakan inflamasi kulit bersifat kronis dan residif (hilang timbul) dengan penyebab belum diketahui. Penyakit ini dianggap penyakit autoimun, yaitu sel T, suatu sel kekebalan dalam tubuh, aktif dan menghasilkan zat-zat mediator penyebab peradangan dan diferensiasi abnormal sel-sel kulit.

Penderita psoriasis mengalami pergantian kulit terlalu cepat. Pergantian kulit pada manusia normal biasanya berlangsung 3-4 minggu, tetapi pergantian kulit penderita psoriasis berlangsung cepat, yaitu 2-4 hari, bahkan bisa lebih cepat.

”Ada beberapa terapi psoriasis, pemilihannya tergantung bentuk klinis, keparahan penyakit, lokasi lesi antara lain, kulit kepala, wajah, lipatan, telapak tangan, kaki, dan genitalia,” ujar Benny. Karena penggunaan jangka panjang, obat yang semula efektif suatu saat bisa jadi tak efektif sehingga penderita butuh obat baru.

Hingga kini terapi psoriasis masih terus dikembangkan, mulai dari terapi kombinasi beberapa jenis obat, terapi sekuensial yang memberi beberapa jenis obat secara berurutan, terapi rotasi, yaitu menggunakan beberapa macam modal terapi secara bergiliran. Namun, beberapa terapi ini bisa menimbulkan efek samping antara lain kerusakan organ dalam tubuh dan kanker kulit.

Kini ada terapi biologik, yaitu protein atau agen biologik yang bekerja selektif pada elemen spesifik sistem imun. Caranya, menghilangkan sel T patogenik, menghambat aktivasi sel, dan mengubah keseimbangan sitokin. Terapi ini tak memengaruhi sel T normal dan sel di luar sistem imun.

”Obat-obatan untuk gejala psoriasis mudah diperoleh, tetapi harganya mahal karena harus digunakan dalam jangka panjang,” keluh Mutia. Hal ini mengakibatkan banyak pasien putus berobat. (EVY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s